Minggu, 06 September 2009

Tips Aman Pemakaian Popok pada Bayi:

Dalam kehidupan sehari-hari sering kita lihat seorang Ibu rumah tangga sibuk mengurus dan merawat anaknya, yang salah satunya adalah pemakaian popok pada bayi ketika Ibu rumah tangga hendak pergi dan kelur rumah ataupun ketika pergi jalan-jalan atau berlibur dengan keluarga. Tidak hanya itu saja, pemakaian popok juga dilakukan atau digunakan kapan saja, baik ketika tidur, saat santai dan sebagainnya. Hal inilah yang kerap dilakukan oleh Ibu rumah tangga walaupun kerap dibilang sederhana ataupun dianggap sebagai hal yang kecil, namun disini pengertiannya sangat besear dan penting untuk dilakukan.Memilih dan membeli popok sesuai dengan ukuran dan postur tubuh si bayi. Pastikan pada saat pemakaian popok benar-benar dalam keaadaan masih utuh dan belum pernah dipakai sama sekali.

  • Usahakan pada saat pemakain bayi dalam keaadaan nyaman, dan tidak banyak bergerak, atau melakukan perlawanan.
  • Kemudian masukan dan pasangkan popok pada jenis kelamin sang anak, jangan lupa melepaskan dan menempelkan kembali isolatip yang tersedia pada setiap popok yang ada, guna untuk perekatan dan kenyamanan bayi pada saat beraktifitas atau bergerak.
  • Periksa kembali dan pasatikan isolatip sudah benar-benar menempel dengan kuat, dan membuat sang bayi merasa sangat nyaman nyaman.
  • Biasakan untuk selalu menggunakan popok pada sang bayi, guna untuk menghindari kebocoran yang terjadi pada setiap saat.
  • Itulah beberapa tips aman dalam pemakaian popok pada sang bayi, patutlah di ikuti dan dijalankan oleh setiap Ibu rumah tangga guna untuk mencegah terjadinya kebocoran dan bau amis yang disebabkan oleh air kencing si bayi yang sewaktu-waktu terjadi kapan saja.

    Kamis, 30 Juli 2009

    Tukang becak naik haji : kisah Wahid yang cerdas finansial

    Filed under: Kecerdasan Power, Profil, Cara Kaya, Topik Personal

    Kisah nyata ini dimuat Pikiran Rakyat Sabtu 6 Mei 2006.

    Wahid (56), penarik becak yang biasa mangkal di kawasan Gunung Pereng, Kec. Cihideung, Tasikmalaya, bersyukur mampu menunaikan haji bersama istrinya Siti Hujaenah pada tahun 2004.

    “Saya merasa bersyukur, karena dari hasil cucuran keringat ini bisa naik haji dan menyekolahkan anak, kata haji Wahid saat ditemui di Terminal Bus Tasikmalaya, demikian dituturkan Pikiran Rakyat.

    Wahid mulai menarik becak tahun 1972 di Gunung Pereng. Sejak awal Wahid bertekad memiliki becak sendiri, maka dia mencicil becak secara kredit Rp 150,00/hari. Tentunya jumlah yang cukup besar waktu itu. Cicilan itu dia bayar kurang lebih selama setahun. Lunas membayar becak, Wahid mulai membeli tanah buat tempat tinggalnya. Berkat kerja keras siang malam dan kedisiplinannya dalam mengelola uang maka ia mampu membeli tanah dan membangun rumah.

    Usai memiliki rumah Wahid kembali mengambil cicilan becak. Becak itu kemudian dia sewakan kepada rekan lainnya. Ternyata hasilnya lumayan. Dari 1 becak sewaan itu Wahid terus menambah hingga kini memiliki 40 becak! Sebanyak 25 becak disewakan dengan tarif Rp 4000,00/hari. “Sisanya saya kreditkan kepada orang lain,” ujarnya.

    Walau tidak sekolah maupun membaca buku, Wahid cukup cerdas finansial. Setelah becaknya bertambah, ia akhirnya mendirikan kamar kontrakan di daerah Gunung pereng, Kota Tasikmalaya. Saat ini ada 25 kamar kontrakan dengan sewa Rp 85.000,00/bulan. “Lumayan untuk menambah penghasilan,” katanya. (Jelas lebih dari lumayan, ini berarti Wahid punya passive income hingga 2,125 juta per bulan. Ini hebat karena hanya sedikit orang yang memiliki’kemewahan’ seperti ini.)

    Wahid punya cita-cita naik haji. Sejak punya dua becak Wahid sudah mulai menabung agar bisa naik haji. Tak ada target harus berapa besar tabungannya terisi setiap bulan, Wahid hanya menyisihkan uang dari hasil usahanya setelah digunakan untuk makan serta kebutuhan sehari-hari. Setelah menabung 30 tahun, akhirnya Wahid dan istrinya bisa naik haji tahun 2004. (Subhanallah, niat mulia yang disertai ketetapan hati sungguh akan mendapat bantuan dari Allah.)

    Wahid juga berhasil memberikan pendidikan yang cukup kepada 3 anaknya. Si sulung lulusan Diploma 2. Adiknya lulusan SMA. Yang bungsu masih SMA.

    Hingga sekarang Wahid masih mengayuh becak. Sehari kadang mendapat Rp 10-20ribu. Kadang sama sekali kosong. tapi semua itu dijalaninya dengan kesabaran, keuletan, dan kerja keras.

    Kisah nyata haji Wahid itu menunjukkan bahwa sukses secara finansial tidak ditentukan oleh besarnya penghasilan, namun oleh disiplin dalam mengelola uang dan adanya tujuan cita-cita yang jelas. Pelajaran yang menarik dari kisah ini :

    • Wahid ingin mempunyai alat produksi sendiri (becak) karena itu dia bersedia untuk menunda berbagai kesenangan demi mendapatkan alat produksi (mendahulukan aset)
    • Selanjutnya ia menyimpan hartanya dalam bentuk yang paling manfaat yaitu rumah untuk keluarganya. Hal ini menimbulkan ketenangan batin dan meningkatkan kepercayaan dirinya dalam berusaha. (mengamankan kebutuhan dasar)
    • Setelah hal paling dasar dipenuhi, Wahid menambah jumlah alat produksi dengan memperbanyak becaknya, dan menyewakannya kepada orang lain. (meningkatkan penghasilan melalui bisnis, sebuah sistem usaha penyewaan becak)
    • Hasil usaha kemudian diamankan dalam bentuk kamar kontrakan yang memberikan penghasilan. (mengubah kekayaan menjadi aset pasif income melalui real estate)
    • Wahid dengan kesungguhan senantiasa membela cita-citanya, seperti punya becak sendiri, punya rumah, beli lebih banyak becak, punya kontrakan, menyekolahkan anak, naik haji. (kejelasan cita-cita untuk kesejahteraan jangka panjang, mengalahkan kesenangan jangka pendek)

    Kita perlu belajar kepada Haji Wahid ini.

    haji wahid

    Kesimpulan:

    Berarti dapat disimpulkan bahwa IMPIAN adalah sesuatu yang harus di wujudkan. dan orang yang tidak memiliki IMPIAN adalah orang yang tidak pernah memiliki masa depan. jangan lah anda menyepelekan orang yang memiliki IMPIAN besar. karena dengan impianlah seseorang dapat tumbuh dan berkembang.